Sabtu, 18 Januari 2014

ETNISITAS DAN MASALAH DISINTERGRASI SOSIAL

AISYAH PUTRI KARIMAH
1201045029
ETNISITAS DAN MASALAH DISINTERGRASI SOSIAL
(Kerusuhan massal yang terjadi di Indonesia)
Kalimantan Barat
Kasus kalimantan Barat berbeda dengan kasus yang terjadi di Timor Timur dan Aceh, namun memiliki sedikit kesamaan dengan kasus ambon ,jika kasus Timor Timur dan Aceh sarat akan muatan “nasionalisme lokal” atau sentimentil separatisme yang kuat,kasus Kalimantan Barat cukup diwarnai oleh konflik etnik yang mengakar antara penduduk asli Dayak (yang kemudian didukung oleh masyarakat melayu ) dan masyarakat pendatang madura ,faktor keagamaan jelas tidak begitu penting dalam konflik ini ,karena ketiga etnik yang terlibat dalam kerusuhaan massal tersebut tidak dibedakan atas garis keagamaan ,kelompok pertama terdiri dari masyarakat Dayak ,yang sebagian besar beragama kristen dan masyarakat Melayu yang beragama islam ,kelompok ke dua adalah masyarakat Madura –yang sebagaimana masyarakat melayu beragama islam ,karena itu ,faktor faktor yang memotivasi kerusuhaan massal di kalimantan Barat bukan masalah keagamaan melainkan masalah Etnik.
Namun ,seseorang harus berhati-hati sebelum menyimpulkan bahwa kerusuhan di kalimantan barat memang disebab kan oleh faktor etnisitas semata ,kenyataanya,faktor etnik baru muncul belakangan ketika akar konflik mulai memanas,motif etnik –kelihatanya-jarang menjadi point utama untuk menjustifikasi konflik dan kekerasan antara 2 kelompok ,masing –masing kelompok etnik membuat stereotip terhadap etnik lainya ,yang digunakan sebagai justifikasi untuk menyerang kelompok lain.
Mempertimbangkan ini semua ,kasus kalimantan barat sama sekali tidak berhubungan dengan kemunculan nasionalisme lokal dan pemisahan diri,kasus tersebut secara umum disebabkan oleh deprivasi ekonomi yang dikemas dengan etnisitas.
Kerusuhan massal Kalimantan Barat kebanyakan terjadi di daerah sambas dan Pontianak di akhir tahun 1996,dan terus berlanjut hingga awal 1997.skala kerusuhan belum pernah terjadi sebelumnya ,dilaporkan bahwa lebih dari 1.720 orang terbunuh di Sanggau Ledo(sambas),peristiwa banyaknya orang yang terbunuh sebagai akibat dari kerusuhan ,Sanggau Ledo ini,mulai pula merasuk kedaerah-daerah lain dikalimantan Barat,khususnya Pontianak ,ibu kota provinsi Kalimantan Barat ,lebih jauh ,rumah-rumah dan bangunan bangunan milik masyarakat madura-yang tak terhitung jumlahnya – dirusak total,serta ribuaan masyarakat madura diusir dan harus dievakuasi secara permanen dari wilayah Sambas dan pontianak ,Mereka sebagaian besar masih ditempatkan di kamp-kamp pengungsian untuk sementara ,hal ini merupakan penderitaan kemanusiaan yang cukup disayangkan ,kebanyakan pengungsi madura tidak bisa pulang ke madura ,karena dilahirkan di Kalimantan barat ,dan tidak lagi memilliki keluarga serta harta benda di tanah kelahirannya itu
Meskipun kerusuhan berskala besar ini menimbulkan penderitaan ,kerusuhaan massal antara masyarakat Dayak danmasyarakat madura ini merupakan hal baru ,selama 47 tahun terakhir ,setidaknya tercatat 11 insiden kerusuhaan massal terjadi,meskipun pada skala lebih rendah ,ini berarti ,rata-rata sebuah pertikaian terjadi setiap 5 tahun sekali,karena itu ,konflik dan kerusuhaan massal sudah menjadi unsur paten dalam hubungan antaretnik di Kalimantan Timur.
Bagaimana kita menjelaskan kasus kalimantan barat ?tak ada satu penjelasan pun yang dapat menjawabnya pertanyaan tersebut ,penjelasan terhadap kasus tersebut tidak hanya terletak pada berbagai faktor dikalimantan timur sendiri ,melainkan juga kebijakan-kebijakan pemerintah pusat di jakarta, pada tingkat kalimantan barat ,tidak ada keraguan bahwa konflik dan kekerasan massal berakar dari hubungan yang tidak lazim antar penduduk asli Dayak dan pendatang baru Madura ,sebagaimana disebutkan sebelumnya ,konflik antara kedua kelompok etnik tersebut mengakibatkan konflik dan pertikaian yang datang dan pergih selama lebih dari 50 tahun terakhir,dalam konteks ini ,pertikaian berdarah 1997-1998 bukan merupakan hal baru ,namun lebih merupakan pengulanganmasalah-masalaah sebelumnya yang tak terselesaikan .
Perbedaan budaya antara kedua kelompok etnik tersebut kelihatanya merupakan faktor terpenting disamping hubungan tidak lazim diantar mereka,di Kalimantan Barat ,secara umum masyarakat madura dipandang agresif,keras kepala,licik,dan tidak menghormati budaya,kebiasaan dan sensitivitas penduduk lokal ,masyarakat madura juga diduga keras membawa celurit kemana pun mereka pergih ,stereotip masyarakat madura ini tentunya bukan merupakan hal baru, sejak zaman penjajahan belanda ,stereotip masyarakat madura tetap tidak berubah ,stereotip masyarakat madura tersebut menjelaskan 2 kemungkinan saja ,yaitu : pertama bahwa stereotip tersebut memang benar dan merupakan bagian dari masyarakat madura ;atau kedua,bahwa masyarakat madura tidak berubah meskipun telah bertempa tinggal diluar kampung halamanya ,yaitu kalimantan barat.
Disisi lain ,banyak orang luar termaksud etnik jawa atau mungkin juga madura menciptakan stereotip tersendiri terhadap masyarakat Dayak kebanyakan orang dayak dipandang sebagai masyarakat yang tidak keberadaban ,yang tujuan umumnya adalah berburu kulit kepala manusia ,stereotip ,sikap dan kebiasaan sehari-hari masyarakat madura yang diamati oleh masyarakat Dayak –oleh juga masyarakat melayu- di kalimantan barat tidak hanya menciptakan benturan budaya ,namun sekaligus menciptakan permusuhan dan kebencian diantara mereka ,sebagaimana kasus hubungan muslim dan kristen di Ambon ,hubungan yang tidak lazim antara masyarakat dayak dan madura tidak pernah boleh dibicarakan secara terbuka pada massa soeharto ,sehingga digolongkan pada kedalam isu S.A.R.A
Selama beberapa waktu ,kerusuhan massal diantara masyarakat Dayak dan madura kelihatan mereda,namun kasus tersebut masih jauh dari penyelesaian ,karena itu ,kita dituntut untuk dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik dan kekerasan lebih lanjut ,para pemimpin formal atau pun informal pada tingkat kalimanan Barat maupun nasional,belum memikirkan diskusi-diskusi dan kebijakan kebijakan serius seputar masalah ini .




sumber : Asy'ri, suaidi, konflik komunal di Indonesia saat ini, Jakarta : 2003. Indonesia - Netherlands cooperation in is Islamic studies (INIS) Universitas Leiden. 

1 komentar: