Minggu, 19 Januari 2014

Perang Antar Suku



Nama   : Elvira Adawiyah
Kelas   : 3N PGSD
NIM    : 1201045179
Konflik Sosial

Perang Antar Suku


Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik sosial bisa terjadi karena beberapa faktor diantara faktor tersebut adalah Perbedaan agama, Perbedaan RAS, Perbedaan etnik, budaya, suku, dan bahkan kesalah pahaman pun  dapat memicu terjadinya perang antar suku.

Konflik sosial memiliki banyak sekali dampak negatif, misalnya menghambat kerjasama, apriori, saling menjatuhkan, dan lain sebagainya. Namun disisi lain konflik sosial memiliki dampak positif juga misalnya mendorong sekelompok orang yang melakukan suatu konflik untuk saling mengoreksi diri, meningkatkan prestasi, dan mengembangkan alternatif yang baik.

Di indonesia sering sekali terjadi perang antar suku. Salah satu contoh yaitu perang sampit.

Konflik sampit adalah pecahnya kerusuhan antar etnis di Indonesia, berawal pada Februari 2001 dan berlangsung sepanjang tahun itu. Konflik ini dimulai di kota sampit, Kalimantan Tengah dan meluas ke seluruh provinsi, termasuk ibu kota Palangka Raya. Konflik ini terjadi antara suku dayak asli dan warga migran. Peristiwa sampit ini menjadi sebuah kota yang digambarkan begitu menakutkan karena pertikaian etnis. Masyarakat dayak adalah masyarakat tradisional yang memegang teguh harkat dan harga diri.  Kerusuhan sampit ini pecah pada 18 Februari 2001 dan sekitar 500 orang Madura tewas 10.000 jiwa kehilangan tempat tinggal. Suku Madura pertama tinggal di Kalimantan pada tahun 1930 dibawah program transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah kolonial Belanda dan dilanjutkan oleh pemerintah Indonesia. Sebenarnya dalam kasus ini terjadi kecemburuan sosial antara penduduk lokal dan pendatang. Dimana pendatang disana menguasai perekonomian, perindustrian, perkayuan. Suku Dayak kerap kali mengalah kepada suku pendatang. Mereka juga sangat terdesak di tanahnya sendiri. Hingga kampung mereka pun berkali-kali berpindah karena mengalah dari para penebang kayu (suku madura) yang terus mendesak mereka masuk ke dalam hutan.
Kerusuhan yang terjadi di Sampit hanyalah salah satu rangkaian peristiwa kerusuhan yang terjadi oleh suku madura yang sejak berdirinya Kalimantan tengah telah melakukan lebih dari 13 kali kerusuhan besar dan banyak sekali kerusuhan tersebut yang mengakibatkan korban dari pihak Dayak. Sangat banyak kasus-kasus yang telah memicu pertikaian antara kedua suku ini, yaitu:
1.      Pada tahun 1972, seorang gadis dayak diperkosa. Kasus tersebut hanya diselesaikan dengan hukum adat.
2.      Tahun 1982 terjadi pembunuhan seorang Dayak oleh suku madura, pelaku tidak tertangkap karena kemungkinan pembunuh kembali ke pulau Madura.
3.      Tahun 1983, pengeroyokan satu orang dayak oleh tiga puluh orang Madura, diadakan perdamaian antara kepala suku dayak dan madura.
4.      Tahun 1996, seorang gadis Dayak diperkosa di gedung bioskop panala dan dibunuh dengan kejam dan sadis oleh orang Madura, ternyata hukumannya ringan.
5.      Tahun 1997,  di desa karang langit, Barito selatan orang Dayak dikeroyok oleh orang Madura dengan perbandingan kekuatan 2:40, dengan skor orang Madura mati semua. Padahal orang Dayak pada saat itu hanya ingin mempertahankan diri dari orang Madura yang jumlahnya sangat banyak. Kasus ini ditutup dengan hukuman berat bagi orang dayak.
6.      Tahun 1997, anak laki-laki suku dayak yang bernama Waldi tewas dibunuh oleh orang Madura yang berjualan sate di daerah itu.

Tidak sedikit kasus pembunuhan orang Dayak (sebagian besar disebabkan oleh aksi premanisme Etnis Madura) yang merugikan masyarakat Dayak karena para tersangka (kebetulan orang Madura) tidak bisa ditangkap dan di adili oleh aparat penegak hukum. Etnis Madura yang juga punya latar belakang budaya kekerasan ternyata menurut masyarakat Dayak dianggap tidak mampu untuk beradaptasi (mengingat mereka sebagai pendatang). Sering terjadi kasus pelanggaran “tanah larangan” orang Dayak oleh penebang kayu yang kebetulan didominasi oleh orang Madura. Orang Dayak merasa sangat tersudut ditanahnya sendiri. Mereka seolah tidak dilindungi dari pihak hukum. Sementara orang Madura semakin merasa diatas angin di kota sampit. Seakan mereka tidak peduli akan perasaan warga lokal disana. Situasi ini semakin hari semakin panas. Orang Madura mempunyai keinginan untuk menjadikan kota sampit sebagai kota sampang ke-2. Mereka melupakan pepatah di tanah Borneo tersebut yaitu, “dimana tanah dipijak, disitu langit di junjung”. Pada tanggal 18 februari 2002 di sebuah pasar di kota sampit, seorang ibu yang sedang hamil dibunuh dengan kejam. Perutnya dibelah dan janin dalam perut ibu tersebut dikeluarkan lalu dibuang. Darah dari seorang ibu dan janinnya tadi dijadikan tinta untuk menulis di sebuah spanduk besar yang bertuliskan “sampit sebagai sampang kedua”. Kejadian ini memang sepertinya telah direncakan oleh pihak Madura. Mereka juga berkeliling kota sampit sambil meneriakkan “matilah kau dayak”. Bom molotof pun berjatuhan di rumah-rumah orang Dayak. Tidak sedikit juga mereka membakar rumah orang dayak. Orang Dayak menjadi takut dan mereka berlari masuk ke dalam hutan. Kepala suku mereka telah sangat murka dan memberi ultimatum kepada orang bahwa apabila dalam 3 hari mereka tidak keluar dari sampit, maka dayak akan memerangi warga  Madura. Sudah sangat banyak pengungsi telah diungsikan ke Surabaya dan ke Palangkaraya. Ultimatum tadipun tidak dihiraukan oleh warga Madura sehingga terjadilah perang etnis disana. Suku dayak berhasil mengambil kembali rumahnya yang hampir diambil oleh suku lain. Banyak rumah yang terbakar, toko-toko milik kedua etnis tadi lenyap serta kurang lebih 500 korban tewas. Tidak ada yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Dalam kata lain perang hanya meninggalkan tangis dan air mata, dan juga kenangan yang sangat menyakitkan.
Untuk mengatasi masalah konflik sosial yang terjadi seperti perang sampit itu perlu adanya peran serta pemerintah dalam penanganannya, sosialisasi dan kerjasama antar suku, pengambilan tindakan oleh pemerintah yang harus dilakukan secara bijak supaya tidak menimbulkan konflik dan kecemburuan sosial.












Daftar Pustaka

Rinakit, Sukardi (2005). The Indonesian Military After the New Order. Nordic Institute of Asian Studies
Kokaino.wordpress.com
Usman, Daharum, Etnopolis Conflict.www.seporatisme.com

1 komentar: