Kamis, 16 Januari 2014

Kekerasan Seksual di Tengah Emansipasi Wanita

Penulis: Pramudita Katarin

Kekerasan Seksual  di Tengah Emansipasi Wanita
Di zaman modernisasi seperti sekarang, telah berlaku emansipasi wanita. Emansipasi wanita diberlakukan sejak R.A. Kartini menuntut haknya sebagai seorang wanita, ia tidak hanya ingin tinggal di rumah dan hanya mengerjakan pekerjaan rumah tangga tetapi ia juga ingin merasakan bagaimana rasanya mengenyam bangku sekolah. Dan ternyata, perjuangan R.A. Kartini untuk mendapatkan haknya tidak sia-sia. Sekarang, para wanita bisa bekerja layaknya seorang pria. Ia bisa bekerja di kantor, di pabrik, dan lain sebagainya. Tetapi berkat R.A. Kartini para wanita berlomba-lomba untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, sehingga ia bisa mendapatkan kedudukan terhormat di dalam masyarakat. Lalu bagaimana dengan para wanita yang berpendidikan rendah? Mereka hanya bisa menikmati pekerjaan yang kondisinya kurang nyaman, seperti misalnya buruh pabrik, tukang cuci, dan lain sebagainya. Memang, semua pekerjaan tidak ada yang hina selama pekerjaan itu menghasilkan uang yang halal, tetapi di masyarakat semakin pekerjaan itu rendah, maka semakin rendah pula orang yang melakukan pekerjaan tersebut.
Dari segi penampilan pun banyak perbedaan di antara mereka contohnya dari segi berpakaian. Mengapa wanita yang bekerja di perusahaan lebih memilih menggunakan rok mini dibanding menggunakan celana, sedangkan wanita-wanita yang tidak bekerja di perusahaan enggan untuk melakukannya? Hal ini dikarenakan wanita beranggapan bahwa sebagai wanita yang berkedudukan tinggi maka ia harus selalu tampil sempurna. Tetapi, anggapan seperti ini haruslah ditepis. Mungkin beranggapan bahwa wanita harus selalu tampil sempurna itu adalah wajar karena semua wanita pun ingin selalu tampil  sempurna tetapi interpretasinya di dalam kehidupan nyata yang kurang tepat. Tampil sempurna disini tidaklah harus dengan menggunakan rok mini sebagai pakaiannya, dengan menggunakan pakaian yang sopan pun ia bisa tetap tampil sempurna. Ia tidak menyadari bahwa pada saat ia menggunakan rok mini pada saat itulah keselamatannya terancam, Belakangan ini sedang marak kasus kekerasan seksual di kalangan wanita.
Dan salah satu penyebab kekerasan seksual ini adalah karena masalah pakaian. Selain itu, penyebab lain dari kasus kekerasan seksual adalah dikarenakan masalah waktu. Para wanita pulang larut malam pun sudah menjadi hal yang biasa. Padahal, pada saat itu pula kejahatan sedang mengintai. Karena biasanya pada malam hari keadaan di luar rumah sudah sepi sehingga kesempatan untuk melakukan kekerasan seksual pun terbuka lebar. Contoh yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat tatkala terjadi kekerasan seksual di angkutan umum atau di suatu tempat. Bagaimana tidak? Selama kebiasaan seperti ini tidak diubah, maka jangan harap kasus seperti ini akan berakhir.


Efek yang ditimbulkan dari kekerasan seksual tersebut adalah timbulnya trauma fisik maupun psikis. Trauma fisik yang ditimbulkan adalah pada bagian-bagian yang mengalami kekerasan seksual, sedangkan pada trauma psikis akan berpengaruh terhadap interaksi sosialnya di dalam masyarakat. Misalnya, ia akan lebih menutup diri terhadap lingkungan di sekitarnya dikarenakan malu atas apa yang telah dialaminya. Tetapi, tidak selamanya emansipasi wanita berdampak negatif bagi kaum wanita contohnya banyak para wanita yang bisa aktif dalam lembaga masyarakat dikarenakan emansipasi wanita ini dan juga harga diri wanita akan lebih terjaga tatkala emansipasi wanita ini telah diberlakukan, ia tidak akan diinjak-injak oleh suaminya dikarenakan ia tidak bekerja, sehingga suaminya pun tidak akan menganggap rendah istrinya dikarenakan ia tidak membantu mencari nafkah bagi keluarganya. Tetapi, meskipun emansipasi wanita telah diberlakukan seorang wanita tetap tidak boleh melupakan tugas pokoknya sebagai seorang pengurus rumah tangga yaitu dengan melupakan peranannya sebagai ibu yang memantau tumbuh kembang putra-putrinya sehingga meskipun sang ibu bekerja tetapi anak-anaknya tidak merasakan kekurangan kasih sayang dan sebagai seorang istri yang senantiasa memenuhi kebutuhan suaminya sehingga keharmonisan rumah tangga akan tetap terjalin.
Referensi:
S. C. Utami Munandar. Emansipasi dan peran ganda wanita indonesia
Jennifer Turpin & Lester  Kurtz,  The web of violence (University of Illionis Press, 1977).

1 komentar: