Sabtu, 18 Januari 2014

POLA PEMUKIMAN dan KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT PESISIR DUSUN MUNCAR (JAWA TIMUR)


POLA PEMUKIMAN dan KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT PESISIR DUSUN MUNCAR (JAWA TIMUR)
Oleh: Fadhilah Irmawati Rahayu (1201045194)

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri atas 13.000-an pulau, memiliki garis pantai sepanjang 80.000km. Lingkungan perairan merupakan pentas dominan di Indonesia, bukan saja karena bentuknya, tetapi juga karena termasuk daerah iklim hujan tropis. Luas wilayah Indonesia yang 5,2 juta km2 itu terdiri atas 62% perairan dan 38% daratan. Wilayah perairan itu sendiri terdiri atas laut, selat, teluk, danau, sungai, rawa, dan waduk. Umumnya curah hujan rata – rata tahunan di Indonesia cukup tinggi, yang merupakan sumber utama perairan darat.
Didaerah propinsi Jawa Timur, pentas lingkungan perairan juga tampak menonjol. Luas wilayah daratan propinsi Jawa Timur termasuk pulau kecil disekelilingnya adalah 4.792.201.72 ha. Sedangkan, luas wilayah perairan lautnya hampir tiga kali lipat, yaitu 11.000.000 ha. Dalam pada itu sebagian wilayah daratannya berwujud perairandarat, khususnya tambak telah mencapai luas 94.677 ha, belum termasuk perairan darat yang berwujud sungai, waduk, dan rawa.
Lingkungan perairan di Indonesia dapat dikatagorikan atas perairan laut yang dikenal dengan nama Laut Nusantara dan perairan daratan. Karena itu tidak mengherankan apabila disekitar pantai muncul pemukiman – pemukiman penduduk. Sesuai dengan lokasi kondisi fiiknya, pemukiman penduduk disekitar pantai itu disebut desa pantai. Umumnya penduduk desa pantai memanfaatkan perairan laut sebagai sumber penghidupan nelayan. Pemukiman yang masyarakatnya dominan sebagai nelayan juga disebut masyarakat nelayan.
Kenyataan sekarang, menunjukkan wilayah perairan nusantara yang luas ini belum dimanfaatkan secara efektif sebagai ruang kehidupan. Sebagian besar nelayan masih menggunakan teknologi tradisional yang sarana transportasinya mengandalkan mesin tempel serta pengetahuan astronomi dan meteorologi tradisional. Para nelayan mampu mengetahua musim ikan dan lain sebagainya. Salah satu dari sekian banyak kelompok nelayan yang cukup berhasil adalah masyarakat nelayan du Muncar, Propinsi Jawa Timur.


A.      Lokasi dan Keadaan Alam Dusun Muncar ( Jawa Timur)

1.    Lokasi
Dusun muncar merupakan bagian dari wilayah Desa Kedungrejo, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur. Kecamatan Muncar memiliki sebanyak 20 dusun. Tepatnya adalah 3 dusun di Desa Tembokrejo, 3 dusun di Desa Kedungrejo, 5 dusun di Desa Sumberberas, 3 dusun di Desa Sumbersewu, 4 dusun di Desa Tapanrejo, dan 2 dusun di Desa Blambangan. Diantara dusun – dusun itu ada pula yang menggunakan nama “Muncar”, yaitu Dusun Muncar Kalimoro di Desa Tembokrejo dan Dusun Muncar Sampangan di Desa Kedungrejo.
Dari Kota Banyuwangi yang menjadi ibu kota kabupaten, Dusun Muncar berada sekitar 37 km ke arah selatan. Kota ini terletak pada paling ujung timur dan berbatasan langsung dengan Selat Bali di sebelah timur, dengan Kota Srono-Cluring di sebelah barat, lalu sebelah utaranya Kota RogoJampi-pusat Banyuwangi, dan wilayah batas selatan merupakan Taman Nasional Alas Purwo. Jika kita melihat pada peta letak astronomis Kota Muncar ialah 8°26ˈ0ˈˈ selatan, 114°20ˈ0ˈˈ timur.
Batas wilayah Dusun Muncar sebelah Timur adalah Sealat Bali. Batas disebelah selatan adalah Dusun Tratas (Desa Kedungrejo), disebelah barat adalah Dusun Krajan (Desa Kedungrejo), dan disebelah utara adalah Dusun Muncar Kalimoro (Desa Tembokrejo). Batas antara Dusun Muncar, Desa Kedungrejo dengan Dusun Muncar, Desa Tembokrejo berupa jalan aspa yang lebarnya sekitar 6 meter.
Luas wilayah Dusun Muncar hampir mencapai sekitar 1 km2, atau lebih tepatnya adalah sekitar 86,315 ha.
2.    Keadaan Alam
            Dusun Muncar termasuk pemukiman pantai. Medan wilayahnya relatif randah dan dataran tingginya berkisar antara 1 – 3,7 meter diatas permukaan laut (Kecamatan Muncar). Panjang pantai wilayah Dusun Muncar kurang lebih 1 – 2 km. Pantai wilayah dusun ini menjadi pusatkegiatan pernelayanan masyaakat Muncar pada umumnya.
Dusun Muncar memiliki pantai dan laut yang potensial yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat. Datarannya cenderung rata karena merupakan bagian dari daratan alluvial yang terbentuk oleh kompleks pegunungan api Raung-Ijen. Selain laut yang menjadi sangat penting bagi masyarakat, tetapi juga terdapat sungai-sungai yang mengaliri kota Muncar. Dan juga di sebelah selatan Muncar terdapat dataran banjir atau delta yang cukup luas yang terbentuk oleh proses sedimentasi sungai yang langsung mengarah ke laut. Delta tersebut digunakan sebagai lahan pertanian oleh masyarakat.
Suhu udara daerah Muncar cukup tinggi, yaitu berkisar antara 30o – 31oC. sementara itu curah hujannya berkisar antara 2mm – 323mm/bulan. Hujan rata – rata pertahun adalah 1.807 mm. Curah hujan yang relatif tinggi terjadi antara bulan November – April, sedangkan curah hujan terendah pada bulan September dan Mei. Antara bulan Mei – Oktober kadang – kadang terjadi hujan “salah mangsa” ( hujan yang bukan musimnya), sehingga ada bulan – bulan yang memiliki curah hujan cukup tinggi pada musim kemarau. Pada bulan – bulan dengan curah hujan tinggi otomatis memiliki haru hujan yang cukup banyak. Sebaliknya pada bulan – bulan kering atau kemarau, jumlah hari hujan perbulan juga cenderung sedikit.
Desa ini memang terkenal sebagai penghasil ikan, selain itu juga terkenal dengan banyaknya industri yang ada di sana. Industrinya antara lain industry pengalengan ikan, industri pakan ternak, industry tepung ikan, industri coldstorage, industry minyak ikan. Industri-industri tersebut dibangun dalam satu kawasan yang tepatanya terletak di desa Sampangan dan desa Kedungrejo. Dan jarak antara kawasan industri ini dengan pelabuhan dan garis pantai sangat dekat sekitar antara 500 m. hal ini dimaksudkan supaya dekat dengan sumber bahan baku industri, Karena hal tersebut juga akan memudahkan pengambilannya sehingga bahan baku tidak mudah rusak. Serta memperkecil biaya akomodasi atau transportasi dari pihak pabrik industri.
B.  Pola Pemukiman dan Keadaan Fisik
Pola pemukiman masyarakat terbentuk memanjang di sepanjang garis pesisir pantai Muncar. Selain itu juga memanjang mengikuti alur sepanjang sungai dan jalan. Bangunan rumah yang berada dipinggir jalan seluruhnya menghadap ke jalan, sedangkan yang agak jauh dari jalan menghadap gang. Sepintas, tata letak bangunan rumah didusun ini tampak teratur dan rapi. Akan tetapi, kesan itu akan pudar jika kita memasuki salah satu gangdi Dusun Muncar ini. Karena letak bangunan yang tidak teratur atau searah,serta bentuk dan ukuran bangunan rumah yang tidak sama. Kenampakan yang cukup teraturhanya tampak dibagian pinggir jalan saja. Pemandangan yang semrawut dijumpai didalam perkampungan
Kota ini memiliki penduduk yang banyak dan daerah yang luas pula. Namun cenderung penduduk membangun pemukiman semakin rapat karena semakin banyaknya jumlah warga terutama pada desa yang dekat dengan pantai dan pabrik. Sehingga jarak rumah satu dengan yang lain sangat pendek bahkan tidak ada jarak sama sekali. Dengan kerapatan jarak antar rumah yang seperti itu menyebabkan bahaya yang bisa timbul tiba-tiba misalnya kebakaran, banjir dan sebagainya.
Bangunan rumah penduduk Dusun Muncar tampak cukup padat. Tampak sejumlah bangunan rumah yang dindingnya saling menempel antara satu rumah dengan yang lain. Ada pula sejumlah bangunan rumah yang jarak antar dinding rumahnya hanya seberapa centimeter.bagian depan rumah dipinggir jalan biasanya diberi pagar, sedangkan yang agak jauh dari jalan jarang yang memiliki pagar. Hal ini, antara lain agar lebih bebas atau lega karena ruang akibat sempitnya pekarangan. Sebagian rumah penduduk dusun ini tiak memiliki halaman. Kalaupun ada, halaman itu relatif sempit. Salah satu akibatnya, tempat bermain dan membuang sampah terasa kurang memadai.
Laut dan pantai kota Muncar memiliki nilai yang sangat penting bagi masyarakatnya, karena laut dan pantai menjadi sumber penyokong mereka untuk memenuhi kebutuhan dan juga mempengaruhi kehidupan social masyarakatn Jika laut atau pantainya rusak maka kehidupan masyarakat juga ikut terganggu dengan tidak adanya sumber pemenuhan kebutuhan. Kemudian lain halnya dengan masyarakat di kota Kalibaru-Genteng (Banyuwangi wilayah barat), menurut mereka pantai dan laut kota Muncar lebih bernilai pada estetika dan entertaimen atau hiburan saja. Hal tersebut dikarenakan wilayah lingkungan mereka tinggal di daerah dataran yang lebih tinggi. Kecenderungannya mereka berprofesi petani sayur-mayur dan menurut mereka tentunya tanah merupakan hal yang bernilai penting. Jadi setiap orang dari daerah yang berbeda pasti beranggap atau menilai sesuatu berbeda dengan orang yang lainnya meskipun objeknya sama.
C.  Jumlah Penduduk dan Pelapisan Sosial
Dibandingkan dengan luas wilayahnya (86,315 ha), tingkat kepadatan penduduk Dusun Muncar ini tergolong cukup tinggiyaitu sekitar 114 jiwa/ha atau 11.400 jiwa/km2. Jauh lebih tinggi daripada kepadatan penduduk di tingkat Desa Kedungrejo (3.245 jiwa/km2), atau kepadatan penduduk ditingkat Kecamatan Muncar yanghanya sekitar 1.416 jiwa/km2.
Langsung atau tidak langsung. Ada pelapisan sosial dalam kehidupan masyarakat Dusun Muncar. Pelapisan sosial ini antara lain, didasarkan keada status agama, dan kekayaan seseorang. Karena status tergolong tinggi, seseorang akan disegani oleh warga masyarakat lainnya. Demikian pula, tingkat penggunaan agama dankekayaan dapat menjadikan orang yang bersangkutan memiliki nilai tersendiri dalam masyarakat setempat. Orang yang paling disegani oleh masyarakat setempat adalah kyai, kyai adalah orang yang ahli dan memiliki pengetahuan luas tentang agama,khususnya agamaislam. Masyarakat mengganggap bahwa kyai adalah panutan warga sekitar.
Setelah kyai, orang yang disegani oleh warga Dusun Muncar adalah “kerawat” atau aparat (“pamong”), kerawat dihormati oleh masyarakat karena kedudukannya. Seperti, gurudan orang kaya. Guru dianggap orang yang sangat berjasa dalam pendidikan anak – anak mereka, guru juga memberi taladan dan bimbingan, serta pembaruan dalam masyarakat. Orang kaya disegani oleh masyarakat sekitar karena materi (kekayaan) yang dimiliki. Dalam hal tertentu orang kaya adalah penolong bagi warga sekitar.
Warga masyarakat yang berada pada lapisan paling rendahdaam struktur pelapisan sosial ini adalah rakyat biasa. Kelompok ini terdiri dari para buruh nelayan, buruh pabrik, tukang becak, dan para pedagang kecil.

DAFTAR PUSTAKA
Budhisantoso, dkk. Kehidupan Masyarakat Nelayan Di Muncar (Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991.
Sandy, Made. Republik Indonesia Geografi Regional. Jakarta: Indograph Bakti, 1996.
Wasono, dkk. Pertumbuhan Pemukiman Masyarakat Di Lingkungan Parairan Daerah Jawa Timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986

2 komentar:

  1. oke, bagus, terimakasih ya. masih bisa berkembang, terus menulis ya.

    BalasHapus
  2. terimakasih...blogx sgt brmanfaat buat saya.

    BalasHapus