Sabtu, 18 Januari 2014

INTERAKSI SOSIAL



Dipika Nur Akmar
3.N PGSD

INTERAKSI SOSIAL

Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial dinamis yang menyangkut hubungan antar-perseorangann, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok lainnya. Interaksi sosial merupakan kunci dalam sendi-sendi kehidupan sosial karena tanpa berlangsungnya proses interaksi tidak mungkin terjadi aktivitas dalam kehidupan sosial. Secara sederhana interaksi sosial dapat terjadi apabila dua orang saling bertemu, saling menegur, saling berkenalan dan memengaruhi. Pada saat itulah interaksi sosial terjadi.
Misalkan, ketika di sebuah tempat yang ramai tiba-tiba pundak anda ditepuk dari belakang oleh seseorang, secara otomatis anda membalikkan badan dan mendorong orang tersebut? Atau anda menepuk kembali pundak orang itu? Atau malah anda membalikkan badan dan tersenyum terhadap orang itu? Tentunya respon anda berbeda-beda dalam menghadapi situasi seperti ini. Sebagai manusia, orang memiliki karakteristik yang berbeda dalam melakukan interaksi. Menurut Harbert Blumer sebagaimana dikutip Richard T. Schaefer, dalam interaksi sosial manusia menginterpretasikan atau mendefinisikan tindakan orang lain daripada bereaksi saja terhadap tindakan orang lain. Artinya , manusia tidak serta merta merespon dengan bereaksi tanpa sebuah interpretasi dan definisi pada tindakan orang lain terhadap dirinya. Interpretasi dan definisi itu berhubungan erat dengan arti (meaning) yang kita pegang sehingga  kemudian kita dapat merespon tindakan orang lain berdasarkan arti tersebut.
Dunia menggambarkan sebuah norma-norma dan nilai budaya dominan dan pengalaman sosialisasi yang diperoleh dalam sebuah budaya masyarakat. Norma dan nilai yang tertanam selama pengalaman sosialisasi menjadi pertimbangan dan standar untuk merespon sebuah tindakan. Penanaman norma dan nilai dibentuk selama interaksi sosial berlangsung dengan orang lain dan masyarakat yang lebih luas. Melalui interaksilah segala nilai dan norma masyarakat ditransmisikan, ditanamkan dan diterap secara mendalam. Interaksi terlihat dinamis dalam proses sosialisasi.
Interaksi sosial sehari-hari membentuk sebuah realitas sosial individu dan masyarakat. Konstruksi sosial mengenai realitas ditanamkan oleh masyarakat. Realitas sosial muncul berdasarkan persepsi, pertimbangan, evaluasi dan defisi yang dibuat oleh kelompok tertentu. Kelompok tersebut memiliki pengaruh yang kuat dalam “mendefinisikan” realitas sosial terhadap kelompok yang lain. Hubungan antara kelompok dominan dan kelompok subordinat dalam masyarakat memperlihatkan adanya pengaruh besar dari kelompok dominan atau mayoritas untuk menentukan nilai yang dianut masyarakat. Bagi kelompok subordinat sulit untuk menghindar atau menolak definisi nilai yang ditentukan oleh kelompok dominan atau mayoritas. Untuk itu tindakan atau perilaku dalam interaksi sosial berkaitan erat dengan konstruksi arti dan definisi situasi kelompok mayoritas tertentu.
Bagi kelompok-kelompok tertentu tak terelakkan untuk melakukan definisi ulang terhadap realitas sosial. Kelompok yang dianggap subordinat berusaha merekonstruksi kembali terhadap realitas yang awalnya didominasi oleh kelompok mayoritas. Umpamanya, gerakan perempuan menuntut kesetaraan hak dalam realitas budaya patriarkhi, aksi protes terhadap larangan jilbab oleh kelompok domonan dan gerakan lainnya. Gerakan atau aksi protes ini menunjukkan proses sosial untuk mengubah definisi atau mendefinisikan ulang realitas sosial yang mendominasi.
Intensitas interaksi sosial berjalan terus menerus dalam masyarakat. Interaksi sosial dapat terjadi interaksi personal sosial, yaitu interaksi dengan orang dalam situasi sosial, misalnya hubungan bayi dengan ibunya sewaktu menyusui,dibuai dan seterusnya. Ada juga interaksi kultural yaitu hubungan seseorang dengan kebudayaan kelompoknya, artinya berhubungan dengan orang lain sambil mempelajari kebudayaan kelompok orang-orang itu. Interaksi personal sosial dan kultural sangat erat hubungannya dengan proses pembelajaran semasa bayi seperti jadwal menyusui, kemudian diselingi bubur, nasi tim, buah-buahan, sampai saatnya tidak menyusui lagi dan seterusnya. Hal ini berarti anak belajar dari norma kekeluargaannya, lingkungannya, norma masyarakat/sosial, nasional sampai internasional.
Menurut Talcott Parsons, tindakan dan interaksi sosial dipengaruhi oleh dua macam orientasi sebagai berikut:
·        Orienrasi motivasional yaitu orientasi yang bersifat pribadi menunjuk pada keinginan individu yang bertindak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
·        Orientasi nilai-nilai yang bersifat sosial yaitu orientasi yang menunjuk pada standar-standar normative, seperti wujud agama dan tradisi setempat.
Interaksi sosial dapat terjadi apabila memenuhi dua syarat yaitu:
·        Adanya kontak sosial
·        Adanya komunikasi
Interaksi sosial mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
·        Interaksi sosial baru bisa berlangsung apabila dilakukan minimal dua orang atau lebih.
·        Adanya interaksi dari pihak lain atas komunikasi dan kontak sosial.
·        Adanya hubungan timbal balik yang saling memengaruhi antara stu dengan yang lainnya.
·        Interaksi cenderung bersifat positif, dinamis, dan berkesinambungan.
·        Interaksi juga cenderung menghasilkan penyesuaian diri bagi subjek-subjek yang menjalin interaksi.
·        Berpedoman pada norma-norma atau kaidah sebagai acuan dalam interaksi.
Dilihat dari sudut subyeknya, ada tiga macam interaksi sosial yaitu:
·        Interaksi antar orang perorangan.
·        Interaksi antar orang dengan kelompoknya dan sebaliknya.
·        Interaksi antar kelompok.
Dilihat dari segi caranya, ada dua macam interaksi sosial yaitu:
·        Interaksi langsung yaitu interaksi fisik seperti berkelahi, hubungan seks dan sebagainya.
·        Interaksi simbolik yaitu interaksi dengan menggunakan bahasa (tulis/lisan) dan symbol-simbol lainnya (isyarat) dan sebagainya.

Menurut bentuknya, Selo Soemardjan membagi interaksi menjadi empat yaitu kerjasama, persaingan, pertikaian, dan akomodasi yaitu bentuk penyelesaian dari pertikaian. Masyarakat Indonesia termasuk tipe masyarakat kooperatif dengan cirinya yang khas yaitu gotong royong.

1 komentar: